Tampilkan postingan dengan label faith. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label faith. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2024

Harga Sebuah Kewarasan : Punyailah Hubungan Erat Dengan Tuhanmu


Hai hai, selamat malam ^_^


Lama banget ya ga nulis, eh terakhir itu ternyata nulis pas November 2023, itu berarti setelah saya balik ziarek dari Lourdes & Fatima ya. Mau 'share' apa nih Dev? Ya, yang bisa saya bagikan masih seputar kesehatan jiwa ya ^_^ Yuk, siapkan camilan & minuman segarnya XD

Oke, saya coba ceritakan lebih rinci yah mengenai keadaan Mama saya yang ada gangguan kejiwaan. Ya so far sih ke psikiater dan psikolog bilangnya bukan dementia ya. Tapi, lebih ke anxiety disorder. Cuma kan ga tau ya, coba kalau kita tengok kasus Bruce Willis yang baru ditegakkan diagnosa Dementia juga tidak dalam waktu dekat kan.

Jadi, kayanya itu mulai tahun 2019 deh (sebelum pandemi ya) Mama itu berantem hebat ama sahabat baiknya, sampai-sampai harus pindah rumah. Ga tahan kalau berhadapan ama orang itu (karena rumah mereka berdekatan) Segitunya yah. Mama sih udah curhat ke saya waktu itu, ya saya sih seperti biasa kasih tipsnya bahwa manusia mengecewakan kita itu wajar, tapi ya udah kita berusaha memaafkan, tetap berteman, hidup kalau sendirian kan ga asyik ya. Dan Mama pun kekuh, ngapain pusing, punya anak yang baik-baik udah bersyukur. Ya di situ dari yang awalnya aktif pelayanan, Mama jadi malas pelayanan, malas berteman.

Terus masuk ke 2020 itu ada pandemi ya. Mama termasuk kelompok komorbid, ada diabetes & darah tinggi. Ya jadilah, masalah ga punya sahabat bertambah dengan masalah parno kena Covid. Ketambahan beberapa karakter Mama yang 'tidak mudah' seperti : over thinking & mudah kuatir itu kali ya yang menghantam kejiwaan Mama bertubi-tubi, ditambah (saya akui) Papa juga bukan sosok yang 'adem' Ya intinya dua orang itu sifatnya sama-sama macannya, cuma yang satu macannya 'mendem' (Mama) yang satu macan 'gigit' (Papa) Cobalah T-rex ketemu donkey kayak saya & Bejo, kan ada yang siram-siram hahahaha XD Mama pun bergaul ikrib dengan yang namanya obat penenang. Dan akibat obat penenang itu, Mama sempat dicurigai terkena Parkinson, soalnya jalannya tu lambat banget kayak orang Parkinson.

Sepanjang 2020 itu Mama jadi sosok yang lebih mudah marah kalau keinginannya tidak kita turuti sesegera mungkin bak Roro Jonggrang. Contoh ni, order Tokopedia, di cancel tokonya karena no stock, Mama marahnya ama saya. Masuk ke tahun 2021, temperamen Mama yang mudah marah saat keinginannya tidak kita turuti sesegera mungkin bertambah jadi histeris teriak-teriak. Kadang malam kalau tidak bisa tidur, Mama pun telponan ke saya bilang mau mati saja, ya begitulah, saya hibur, saya ingatkan. Ga mudah emang menghadapi curhatan orang seperti itu. Saya pun ikut 'babak belur' ya untungnya sih challenge yang saya hadapi juga ga banyak waktu itu, kan pandemi ya. Kegiatan pelayanan juga ga banyak, masih belum ikutan edan lah saya XD Ya sambil saya tanya kanan kiri kan, kuatir juga. Dimulai dari yang :

1. Apa Mama 'kerasukan'? Ternyata bukan ya

2. Mama ada gangguan jiwa? Betul, udah ke dokter spesialis syaraf juga dinyatakan sehat sekali. Ke psikolog cuma dibilang ini parah banget, ga bisa tenang. Bahkan Romo Charles bilang itu Mamanya Cye2 serem banget coba lihat tarikan nafasnya cepat sekali loh, duduk santai aja ga bisa.

Dan ya karena Papa Mama kan termasuk orang 'kuno' ya, konsultasi ke psikolog itu ditolak mentah-mentah ama mereka. Enak aja bayar mahal cuma disuruh cerita ga dikasih obat XD Ya mau gimana lagi ya? Puji Tuhan waktu itu saya mulai ikutan Pastoral Conseling Course di Keuskupan Bogor. Banyak pengalaman yang diajarkan ke saya. Mulai rutin telpon Mama tiap hari, ngobrol ngalor ngidul. Waktu itu sih lumayan, Mama masih bisa coloring, katanya sih lumayan bantu. Terus ikutan senam Ping Shuai Gong, katanya pikiran lumayan tenang.

Masuk 2022 lumayan lah, walaupun masih ada dilema 'Mama sering salah hitung' dan masih sering ga sabaran, tapi yaudah kami udah bisa berdamai dengan perubahan karakter tadi. Tapi, Papa jadi sering emosi ama Mama, karena Mama sering banget bertanya hal yang diulang-ulang. Mendadak akhir Oktober 2022, Mama serangan stroke ringan. Dan saya sadari ternyata memang Mama saya 'not ok' Ya karena saya jagain Mama semaleman ya. Sifatnya benar-benar tidak normal, tidak cuma pertanyaan yang diulang-ulang, bersikeras mau makan dan keluar RS padahal jam masih menunjukkan pukul 2 pagi, setiap 30 menit sekali membangunkan saya, udah pagi belom? (padahal ada jam di depan ranjang Mama di RS), minta diolesin minyak angin, minta minum, minta keluar dan lain sebagainya. Ada satu hal yang saya syukuri, di tengah sakit kepala & kelelahan saya menjaga Mama di RS, koq puji Tuhan saya bisa pulang & jagain Mama, ini kan ga lucu beneran kalau Papa yang jagain Mama? Bisa sakit dua-duanya tuh. 

Pulang RS Mama sih masih bisa jalan biasa, walau tangan kirinya jadi agak melemah, pegang apa-apa sering jatuh. Akhirnya kami putuskan, Mama tidak bisa 'hidup mandiri' kami pun minta bantuan suster untuk merawat Mama (Papa Mama tinggal terpisah di luar kota) Dan dimulailah 'masa kelam' itu, tangisan ingin mati, ingin bunuh diri, tidak mau bangun dari tempat tidur pun dialami Mama. Akhirnya saya dapat rujukan psikiater di RSJ Lawang oleh seorang teman sepelayanan di gereja yang kebetulan psikiater juga. Ya berkat obat psikiater itu Mama sudah bisa keluar dari depresinya. Udah tidak pernah terucap ingin mati saja. Cuma ya namanya aja sakit jiwa, obat itu tidak menyembuhkan sakit jiwanya, hanya meredam gejala yang timbul saja, seperti meredam kegelisahan, meredam kesedihan. Ya pasti, Mama jadi manusia dengan perasaan yang minimal karena obat itu tadi. Tidak punya semangat, tidak punya kesedihan, tidak punya kegembiraan. Untuk sekedar tersenyum di foto kami pun harus menemukan satu kata pamungkas yang membuat Mama tertawa. Itulah yang Mama alami di 2023

Bagaimana dengan yang saya alami? XD Ya seperti tulisan saya di November 2023 itu, saya tidak baik-baik saja sih sebenarnya. Ya puji Tuhan, Tuhan masih memegang erat saya, sehingga kenormalan jiwa saya masih berlanjut. Mungkin karena saya tipe orang yang ga cuma bersyukur aja kali yah, hehehe. Saya sering juga protes ke Tuhan, menangis, mengeluh capek. Tapi, ya Tuhan berkali-kali kuatkan saya. Jadi keingat firman ya "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. (Maz 51 : 19) Ya itulah yang saya alami. Karena ga cuma menghadapi Mama & menghibur Papa ya, Mama itu kan orang tua mandiri, pembukuan pun dikerjakan olehnya. Nah, karena ada gangguan ini, ga mungkin kan Papa yang pegang keuangan. Otomatis ya saya XD Mabok sih semestinya kanan kiri pegang keuangan hahahah ga di kantor, di keluarga, diri sendiri, pelayanan juga keuangan. Maksudnya mau jadi ketua panitia geto loh? Wuahahahahahahahahaha JANGANNNNN! Bisa pelan-pelan korslet saya! XD

Di Lourdes & Fatima itu saya berdoa memohon mujizat kesembuhan buat Mama, jujurly saya dah ga kuat kalau kelamaan seperti ini. Takut tumbang. Ternyata doa saya dijawab, saya diberi kekuatan ama Tuhan XD

Yaudah deh ya XD Dikasih kepercayaan seperti ini ya dijalani aja ya gak? Dikasih kepercayaan tanah 120m2 diterima aja lah walau pusing-pusing edan dikit, ntar kalau dikasi tanah 2000 ha kan jadi lebih kuat yak XD

Jadi, kalau ditanya teman dan sahabat, bagaimana kabar Mama? Ya gimana ya jawabnya, saya pun bingung. Dahlah alami aja dulu nanti juga ngerti XD (minta dijambak gak siiii hahahaha) Ya pokoknya jawabnya itu, sakit jiwa itu apapun bentuknya entah anxiety, ya ga ada kata sembuh, adanya kata pulih, kapan pulihnya? Ya psikiater aja ga tau, apalagi kami yang tempe tahu ini yak XD Apalagi dementia, ya udah ga ada kata pulih lagi. Jadi, kalau ditanya apa Mama saya dementia? Ya ga tau juga, terakhir sih diagnosanya bukan yah. Koq kayanya pasrah banget sih Dev? Ya emang itu last option saya biar agak waras dikit yah XD Udah coba bujuk-bujuk ke psikolog buat konseling kan biar mendingan sakit jiwanya, yang ada saya malah diomelin, saya yang stress ya gak? XD

So, teman-teman jangan sepelekan gejala kecil gangguan jiwa ya ^^ Segeralah ke psikolog atau konselor lah ya kalau berat biayanya. Dari hal-hal yang kecil itu kalau udah jadi gede, 'biaya' nya ga murah yah. Obat sakit jiwa itu murah koq, cuma dampaknya aja yang mahal. Kualitas kewarasan keluarga yang jadi harga mahalnya :)

Segitu aja cerita saya, semoga berguna yah buat teman-teman. Jujur emang yang namanya kejiwaan ini begitu syulit dipahami XD Yang bisa dijalani aja yah. Ganbatte!


Have a splendid night to share


Tuhan memberkati


DPS pamit

Sabtu, 22 April 2023

26 Februari 2023 Firman Tuhan : Pelita Bagi Hidup Kita

 Tak terasa kita sudah memasuki masa puasa. Pada masa puasa ini kita kembali diingatkan untuk bertobat dan mempersiapkan Paskah. Melalui Mazmur hari ini kita diingatkan juga bahwa pertobatan dengan mempersembahkan hati yang hancur dan remuk tidak akan dipandang hina oleh Tuhan. Hal apa sajakah yang bisa kita lakukan dalam masa pertobatan ini?

Melalui bacaan Injil dan bacaan pertama, kita melihat bagaimana teladan Yesus yang sungguh berkebalikan dengan Adam. Ada tiga sikap Yesus yang dapat kita teladani melalui peristiwa pencoban di padang gurun. Yang pertama, Yesus mengutamakan firman Allah ketimbang kenyamanan. Pada kitab Kejadian, Allah juga telah menyampaikan firman-Nya, bagaimana manusia tidak boleh memakan buah dari pohon yang ada di tengah taman. Namun, manusia mengabaikan firman Tuhan, dan menuruti kenyamanannya (dilihatnya baik dan sedap). Meluangkan waktu beberapa menit dalam sehari untuk membaca firman Tuhan, terkadang tidak kita lakukan. Alasan yang kita kemukakan pun bermacam-macam, ah kalau pagi gak keburu Tuhan, nanti terlambat ke sekolah atau kantor. Kalau siang? Masa gak sempetin makan siang, kan butuh tenaga juga. Pulang sekolah atau kantor? Ngerjain tugas dong, kerja kelompok, oh ada meeting di gereja, ada pertemuan lingkungan, ada ketemuan ama teman yang udah lama gak pernah ketemu. Akhirnya tibalah malam hari, munculah alasan ngantuk dan ketiduran yang kita kemukakan, dan berakhirlah hari itu tanpa membaca firman Tuhan dan direfleksikan. Kalau iseng kita hitung, seberapa lama sih waktu yang kita habiskan untuk menonton film, browsing, melihat social media dalam 1 hari?

Kalau sekedar hapal firman Tuhan, iblis pun bisa melakukannya. Hal tersebut dapat kita lihat ketika iblis mengatakan kepada Yesus, "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (Mat 4 :6) yang sesungguhnya iblis sebutkan dari Mzm 91 : 11-12 Bisa kita lihat bagaimana lihainya iblis dalam mempermainkan firman Allah untuk menjadi sebuah alasan, menjadi sebuah senjata untuk menyerang orang lain, tenang aja Tuhan baik koq, sekali tidak baca firman Allah juga tidak akan mati.

Bagaimana dengan Yesus, teladan sejati kita semua? Yesus tidak hanya tau firman Allah, Dia juga melaksanakannya. Jadi, Ketika kita hanya tau firman Allah, dan mencomotnya untuk berbagai kepentingan diri sendiri, apa bedanya kita dengan iblis?

Teladan Yesus kedua, sadar akan situasi yang dihadapi dan merefleksikan dengan firman Allah yang tepat. Bukan sok jagoan dan ingin membuktikan firman Allah yang hanya sepotong-sepotong seperti iblis. Apakah kita sering mendengar ‘mintalah apa saja yang kamu kehendaki , dan kamu akan menerimanya’ (Yoh 15 :7) Ayat andalan ketika kita ingin doa kita dikabulkan Tuhan, Tuhan pasti mengabulkan apapun yang kita kehendaki. Kita lupa, ada kalimat di depannya yang tidak kita refleksikan ‘Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu’ Sudahkah kita tinggal di dalam Tuhan dan firman Tuhan tinggal di dalam kita? Apakah kehendak kita selaras dengan firman Tuhan?

Teladan Yesus yang ketiga, hanya Allah saja yang patut disembah, hanya kepada Allah saja kita baktikan seluruh hidup dan diri kita. Sudahkah kita mengutamakan Allah? Apakah kita masih mengutamakan diri sendiri? Mungkin kita bisa beralasan, ya namanya manusia hidup ya butuh makan. Tentu, Tuhan tidak melarang kita untuk makan. Namun, apakah kita sudah mengikuti proses yang benar dalam mencari rejeki? Apakah nafkah yang kita hasilkan membuat orang lain terampas kesejahteraannya? Apakah kebahagiaan kita hasil dari membuat orang lain menderita?

Memang tidak mudah membaca firman Tuhan, namun bila tidak kita mulai, kapan kita akan mengetahui sabda Allah? Sabda Allah yang konon katanya adalah sabda yang hidup? Sabda yang melintasi jaman, waktu ke waktu dan tetap relevan untuk dilakukan. Demi apa? Tentu demi keselamatan diri kita dan juga orang lain, bukan perkara nyaman dan tidak nyaman, bukan perkara enak dan tidak enak. Semoga di masa Prapaskah ini kita dapat mempersiapkan diri dengan baik, mulai membaca firman, dan yang terpenting melakukan firman itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin

Kamis, 13 Juni 2019

LGBT - Is Given or Choice?




Hai hai


Lama ya ga nulis sesuatu ^^ Beberapa waktu lalu kita dikagetkan oleh keputusan Taiwan ya buat melegalkan pernikahan sesama jenis. Bahkan Thailand yang sepertinya lebih 'moderat' malah ditinggalkan oleh Taiwan. 

Beberapa waktu lalu saya juga melihat youtube bagaimana sih pandangan orang Thailand tentang LGBT? Ternyata mereka melihat itu mungkin hukuman yang mereka jalani, semacam karma gitu ya. Jadi, mereka melihat itu sebagai bentuk belas kasih, kasihan gitu lho kalau orang-orang itu disingkirkan. Lantas kenapa mereka malah tidak duluan mengesahkan status pernikahan sesama jenis?

Baru-baru ini juga saya iseng-iseng lihat sebuah web komik, yang ternyata genre cinta sesama jenis malah menjamur. Setelah membaca sebentar di sebuah komik genre 'BL (Boy's Love) koq sepertinya orang-orang di sekitar pasangan tersebut menganggap biasa saja dan bahkan mendukung.

Familiar ya kejadian tersebut dengan dihapuskannya LGBT sebagai 'sakit klinis' yang harus diterapi di Amerika sana. Ya, diawali dengan memulai memperkenalkan sebagai hal yang biasa saja. Lama kelamaan masyarakat akan menerima LGBT sebagai karunia Tuhan. Melihat bahwa pernikahan sesama jenis pantas mendapatkan perlindungan hukum, karena anak-anak mereka pun harus dilindungi. Wait! Anak? Ya anak dari adopsi, anak dari IVF yang dilahirkan dari surrogate mother yang semestinya sel lain jenisnya juga bukan dari kedua pribadi pasangan tersebut.

Who am i to judge? Betul. Saya tidak mengkritisi mereka berdosa atau tidak. Saya cuma mengemukakan, itu semua diawali karena terbiasa. Biasa nyaman berteman dengan sesama jenis karena pasti lebih memahami perasaan kita. Yang cewek merasa nyaman jalan bareng cewek karena saling memahami. Yang cowok nyaman jalan bareng cowok karena pikirannya sejalan. Ketika kebutuhan psikologis tercukupi, kita merasa tercukupi dan merasa why not being LGBT? Ya selanjutnya menyangkut kebutuhan biologis pun kita anggap wajar sebagai pemenuhan kasih sayang ke pasangan kita. Serem ya? Yes, it drips slowly unto your skin. Setelah kebutuhan biologis terpenuhi, mungkin melihat kebutuhan punya anak, ya tinggal IVF dan cari donor sel dari lawan jenis, tinggal cari surrogate mother buat mengandung & melahirkan. Mungkin di masa depan, sudah tidak perlu 'mom' buat mengandung dan melahirkan, fungsinya bisa digantikan dengan mesin, tergantung yang mampu membayarnya.

Itulah manusia. Kita merasa kebutuhan kita menganga seperti black hole, menuntut untuk terus dipenuhi dan dipenuhi. Tanpa berusaha mengenali apa semestinya kehendak Tuhan dalam diri kita? Tuhan ingin apa dari kelemahan kita? Apa yang harus kita pikul dan kita hindari?

Ada yang bilang, it's ok if you're LGBT as long as you live in chastity. Hey hey, tau gak konsekuensi jika hal itu semakin meluas? Tidak akan ada lagi yang meneruskan karya penciptaan Tuhan. Mendengarkan kehendak Tuhan itu bukan cuma soal chastity loh. Tuhan mau apa dari kita? Yes, mungkin kita LGBT, tapi karena apa? Pernah gak kita mau menyelami lebih lanjut, kenapa kita bisa memilih hal itu? Mengapa kita bisa mengalami hal itu? Apakah karena kita belum memaafkan seseorang? Ataukah karena kita terlalu terfokus pada pemenuhan kebutuhan kita sendiri? Lantas apa yang ingin Tuhan kita lakukan? 


It's not easy, betul. Sama ketika seseorang pertama kali belajar merokok atau berbagai hal yang menyebabkan kecanduan lain, atau ketika pertama kali belajar mencuri. Lama kelamaan akan terasa biasa, tidak bisa hidup tanpa kecanduan tersebut. Lantas, apa benar kita sederajat dengan binatang? Yang hanya mampu mencari pemenuhan kebutuhan pribadinya? We are beyond of that. We are human, kita diciptakan secitra dengan Allah. Lantas kenapa kita menyamakan diri kita dengan binatang? Mungkin setelah level tertentu, kita harus dibantu dengan obat melalui psikiater. Tapi, jangan menyerah!

Be brave! Be strong! Akui kelemahan kita, ampuni orang-orang yang telah menyakiti kita. Jadilah pribadi yang baru, yang mau mendengarkan kehendak Tuhan. Jadilah manusia baru!

Matius 9:12 : Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.
Ya, ketika kita merasa sakit, kita akan disembuhkan. Pernahkah kita menyadari bahwa kata tobat, ada unsur kata obat? ;) Yes, dari pertobatan, kita memperoleh obat untuk sembuh.


Tuhan memberkati,


Have a wonderful night to share.



DP pamit ;)