Kamis, 24 April 2014

Obstacles = a Way, How?

Selamat malam :D


Wihh... Lama ga ngerumpi :D Ga panjang-panjang, cuma mau sharing mengenai apapun yang teman-teman hadapi, entah tantangan entah hadiah, anggaplah sebagai sebuah jalan menuju cita-cita & tujuan kita.


Tadi siang sempat terpikir suatu ide. Bener juga, rintangan lah yang membuat kita maju. Seperti ketidakmampuan saya untuk membuat hiasan fondant *eh dibahas, hahahaha* membuat saya bersemangat menemukan jalan keluarnya.


Seringkali kita menganggap suatu rintangan, sebagai hanya sebuah rintangan. Saat kita tau bahwa tidak ada jembatan di ujung jalan, pikiran kita sering tertuju pada rintangan itu saja, bukan pada bagaimana saya harus menemukan jalan :) Kita bisa menganyam akar, bisa menumpuk kayu-kayu, atau mungkin bisa belajar berenang. Ketika kita sadar sudah berada di seberang, kita ternyata punya keahlian baru :)


Menurut saya, apapun di dunia ini, asal kita punya tujuan, pasti hidup akan lebih berwarna. Ya, tujuan tidak hanya sesuatu yang hebat, atau sesuatu yang extraordinary. Tujuan hidup lebih sehat, tujuan mengatur waktu lebih efisien, tujuan untuk lebih produktif, atau sekedar tujuan menyelesaikan sebuah tugas.


Hidup adalah sebuah kesempatan. Menurut saya, dalam kesempatan itu kita seharusnya mempunyai tujuan. Ketika tujuan sudah dapat kita identifikasi, ingatlah...apapun yang kita hadapi di depan adalah sebuah jalan untuk menjadi  pribadi yg lebih baik lagi :)


PS : Berusaha menyemangati diri saya untuk bekerja lebih efektif & lebih produktif



Tetap semangat & have a blessed night to share.


DPS pamit

Senin, 17 Maret 2014

Ku Tau Yang Ku Mau - Simple Guidelines for Deciding the Right One

Selamat siang ^_^


Tulisan ini sekedar buat share aja, buat ngasih semangat juga buat teman-teman yang masih mencari 'soulmate' & keyakinan buat teman-teman yang takut nikah.

Lucu semestinya yang suka takut nikah tu cewek *berarti kalo cowok takut nikah sama aja banci, betul? dilempar bakiak ama yang merasa hahahahaha ^^V* Saya mencoba melihat-lihat kenapa sih sebegitu takutnya ama pernikahan? Padahal Paus Fransiskus sendiri pun mengatakan jangan takut. Iya, saya juga berusaha meyakinkan teman-teman, serahkan kuatirmu ke Tuhan.


Ya tentu saja kita ga sembarangan, ada kambing kita nikahin :p Saya kira langkah paling pas untuk menentukan seseorang cocok kita nikahi atau tidak bukan pada cinta ya ^_^ Syok? Kaget? Terjengkang? *mulai lebai, hahahahaha ^^V* Ya cinta emang salah satu syarat pernikahan. Tapi, bukan satu-satunya loh. Terus ada yang nyeletuk, ya jelas....duit....buat resepsi ama beli rumah *terjengkang, hahahahaha* Maksud saya, salah satu yang penting lain adalah : KU TAU YANG KU MAU, selanjutnya saya sadar dengan kemauan & pilihan saya ^_^


Sungguh disayangkan, beberapa perempuan, memilih pasrah untuk dipilih. Salah? O..so pasti ^_^ Eh tapi pasrah juga termasuk pilihan, kalau emang pasrah dipilih orang, ya yakinlah bahwa Anda pun pasrah ke depannya menerima dia seperti apa. Kita kudu punya kriteria yang jelas, itu HARUS. Ga cewek ga cowok, kudu punya KRITERIA. Entah mau seribu atau sepuluh ribu, kudu ada. Entah berjalannya waktu, disadari bahwa seribu itu benar-benar satu di antara semilyar, ya sok atuh kalau mau dievaluasi menjadi seratus.


Saya pingin cowok atletis! Oke, catet. Sadar kan ama konsekuensi dengan tubuh atletis? Selingkuh? Yaelah....udah jauh pula pikirannya, hahahaha. Homo? *terjengkang* Tubuh atletis itu bukan hal yang instan lho... ^_^ No pain no gain, itu benar. Coba diamati, itu tubuh atletis kenapa? Tiap hari nge-gym enam jam sehari? Diet mati-matian? Tiap makan nasi, sit up? Siap punya suami seperti itu? Anda sendiri? Concern nggak dengan kesehatan tubuh Anda? Kalau Anda ga concern, mungkin dia juga mencoba mengubah Anda agar jadi concern :) Siap diubah?


Saya pingin cewek jago masak, cewek rumahan, suka bersih-bersih. Cong, itu calon istri, bukan pembantu =p Jadi, setiap istri pasti punya konsekuensi. Coba dicek, yang jago masak, cewek rumahan bagaimana? Rata-rata malas kalau disuruh jalan keluar. Kenapa? Karena 'target' mereka itu begitu banyak di rumah. Yang bersih-bersih kompor, nyuci baju, bikin kue, bikin masakan, bersih-bersih piring. Siap kemana-mana sendirian? Ya mungkin pada awalnya dia mencoba ikut ritme kita yang suka bergaul di luar. Tapi, lama kelamaan cape juga kan menjadi seseorang yang bukan dirinya ^_^ Jadi, kalau pingin cari cewek rumahan suka bersih-bersih, mending rekrut pembantu aja deh >.< ^^V


Dan sederet-sederet kriteria lain, pasti semua ada konsekuensinya. Be careful with what you wish for, itu nyata adanya :)


Sekedar share (atau mungkin tak jemu-jemunya mengingatkan ya, abis bolak-balik ditulis) dulu saya banyak pemikiran ketika memutuskan, oke saya mau menikah dengan Hadi. Dengan sederet keinginan saya, cowok sederhana, hidupnya bersahaja -> ya so pasti pelit to ya :D *pis....my tweety* Dengan rumah di pegunungan, saya bisa ga hidup seperti itu? Jadi, saya pikir, berbagai macam arbitrasi & negosiasi banyak kami lakukan sewaktu persiapan menikah (di samping mumet ngebahas budget nikah juga sih) (membayangkan Israel & USA mau gabungin daerah, wkwkwkwkw)


Jadi, tolong buka mata. Pernikahan itu beneran indah, kalau kita tau dan sadar akan apa yang kita pilih. Kenapa? Bukan karena kita memilih yang indah. Tapi, sewaktu yang indah menjadi pudar, kita disadarkan kembali, ini lho pilihan saya, ini lho yang saya anggap indah itu. Ini PILIHAN saya. Mau nelen muntahan sendiri? Kalau ga jijik sih, boleh dicoba =P *sarkasme.com*


Buat yang udah terlanjur, memutuskan karena pasrah & emang karena ga tau aja, dulu emang cinta. Nasi sudah menjadi bubur kan? Namun, ingatlah, Tuhan sudah menyiapkan cakwe, daun bawang, ayam suwir, kaldu ayam, krupuk, & empingnya XD *ngopy dari picture Dewi* Tetap berjuang :) Ingatlah bahwa dalam perkawinan, kita tidak akan pernah sendirian. Kenapa? Ada anak? Pembantu? Selingkuhan? Ops...hahahaha.... Ya, seolah kita sendirian, kita punya Tuhan :) Kita bisa mendekatkan diri ke Dia, saat biasanya cuma mendekatkan diri ke pasangan doang. Mencoba mencari di mana akar permasalahannya, & mencari solusi yang tepat.


Note : suka juga ama artikel yang sempat di share teman2 mengenai pernikahan, fokuslah pada pernikahan. Tapi, yang menjadi garis bawah adalah, carilah pasangan yang bisa menghargai & mencintai keluarga intinya :) Itu akan jadi bekal dia, bagaimana memperlakukan kita kelak. Kalau sedari awal, calon sudah tidak bisa berdamai dengan keluarga sedarahnya, masih yakin dia bisa berdamai dengan kita kelak? Kalau yakin, ya sudah :) Ingat, menikah itu KEPUTUSAN.


Have a blessed day to share.


DPS pamit

Senin, 17 Februari 2014

Just Do It - Antara Chanel, Picnic Roll, Alumnus 93, Tahir, & Tuhan

Halo! Selamat siang ^_^


Udah lama banget ya ga tulis-tulis. Semestinya udah lama banget mau nulis *beneran nulis? apa nyampah? hahahahahaha ^^V* cuma internet udah ga bersahabat lagi, ya gitu deh. Akhirnya daripada jadi bisul, siang ini saya sempatkan menulis pas lunch time. Soal apa nih? Hm....ini tulisan lebih buat menyemangati teman-teman yang tengah bergumul bekerja atau mengikuti keinginan untuk berwirausaha. Eh, buat yang lagi nyari PH juga bisa loh.... ^_^ yukk...


Dulu itu kan cita-cita saya punya brand sekeren Chanel, atau retail segede Zara, yah..yang berbau fashion design gitu lah ya. Emang awal-awal kehidupan saya *buset....bahasanya hahahahaha* penuh tantangan buat mewujudkan cita-cita saya itu. Cibiran keluarga dengan yang namanya SMK Tata Busana, atau hanya lulus D3 di bidang Tata Busana, apalah artinya dibanding jadi dokter, atau insiyur, eh...malah ujung-ujungnya jadi seorang akuntan. Tapi, tetep yah namanya kalo ga 'ngeyel' ya bukan Devi :p tetep curi-curi bikin sketch, bikin figure drawing. Setelah kerja, tetap saya sempatkan les figure drawing, & jahit menjahit, walaupun termasuk menyita waktu cukup banyak, apalagi setelah menikah. Oleh karena itu, yang single-single yuk mari, sebelum nasi menjadi nasi goreng, sempatkan kejar cita-citamu. Bukan berarti saya mengecilkan hati yang udah menikah, yang udah Bapak-bapak, yang udah Ibu-ibu, bisa koq kalau mau memulai, asal ada tekat. Eh! Ga cukup tekat, tapi juga komitmen & manajemen waktu yang baik, pasti bisa ^_^ Maklum yah, kalau sudah berkeluarga pasti ada pihak-pihak yang perlu diurusi & diperhatikan juga.

Ya, awal-awal kursus jahit, tetap menggebu-nggebu. Tahun kemarin masih, apalagi setelah lihat fashion show Denny Wirawan (designer Indonesia kesukaan saya) pingin bikin ini itu. Namun yah, perjalanan saya mencintai usaha di bidang fashion itu tersandung oleh besarnya tantangan yang diberikan. Ya, saya bicara mengenai realita. Untuk membuat sepotong baju saja, saya kudu nyari bahan sendiri, ukur-ukur, bikin pecah polanya, potong kain, obras, jahit, fitting, finalisasi karya. Tak mudah kalau harus membagi waktu dengan 8 - 5 saya bekerja (bahkan kadang 8 - 8 yah) dan 9 - 10 saya kerjakan impian saya itu. Saya jadi bosan, mentok, ujung-ujungnya mendadak rada benci ama yang saya sebut cinta pertama saya itu *lebay yaaaaa hahahahaha* Ditambah ikut 3 lomba berturut-turut yang lumayan menyita modal waktu & uang, belum kesampaian juga nangkring di 20 besar pun. Impian saya yang menyala-nyala surut sudah. Ya, sama dengan ketika kita cinta ama si A, menggebu-gebu, berbagai usaha kita kerahkan, namun berbagai macam celaan dialamatkan kepada kita, termasuk dari si A itu sendiri.

Lelah T.T (jujur itu yang saya rasakan) Cuma saya tidak mau menyerah, saya mau tetap komit mencintai si cinta pertama saya. Tetap bikin sketch, cuman perwujudannya? Nol! Karena ketika memulai, dibenturkan lagi dengan kenyataan modal yang harus saya keluarkan lumayan. Bahkan, saya berpikir untuk berbagi upaya dengan salah seorang sahabat saya, dengan harapan dia juga bisa saling mengingatkan saya. Hasilnya? Nol kembali T.T Di tengah keterpurukan saya, saya menemukan masak-memasak, manggang-memanggang sebagai cinta kedua saya. Dia menarik, tidak membutuhkan banyak waktu. Total untuk membuat pastel tutup, cake, atau apalah masakannya, even yang paling ribet & cape, bakso! Hanya butuh total waktu 6 jam (itu pun bisa saya kerjakan bersamaan dengan kerjaan lain) Ya, saya pun lebih suka berkesperimen ke masak-memasak, manggang memanggang, hias-menghias kue, walaupun belum bisa dikatakan ahli ^_^ Tapi saya menikmatinya, dan puji Tuhan, banyak apresiasi yang saya dapatkan. Teman-teman menyukai yang saya masak, plus berbagai sharing & masukan positif dari mereka. Dari hobby jadi duit, itulah yang saya alami dengan cinta kedua saya.

Ya, pelan-pelan saya mau mencoba bikin ini itu juga. Namun saya merasa bahwa cinta saya dengan si kedua ini, tak bertepuk sebelah tangan. Kami sama-sama saling mengisi, saya berusaha, dia memberikan tantangan & juga hasil :) Sedih sebenarnya meninggalkan si cinta pertama saya ^_^ *deep in my heart* Yah, meanwhile itu yang bisa saya lakukan. Rehat sejenak dari penolakan si cinta pertama saya. Someday, mungkin ketika senggang, ya, saya masih mau melakukannya, i'm going to be back, my love *kecup* *lebayyy....hahahahahahaha*


Nah, familiar kan dengan kejadian teman-teman sehari-hari ^_^ Terkadang kita mengalami begitu banyak penolakan. Sampai cape rasanya berdoa, kenapa rasanya jawaban tidak pula? Kalau dengar dari motivator koq sepertinya salah kita yang berusaha kurang keras? Kurang nekat? Kurang terencana? Seolah-olah kita adalah pribadi yang selalu kurang & tidak layak dicintai & mendapat sesuatu atau seorang yang mencintai kita ^_^


Mungkin karena mata kita terlalu buta. Menganggap bahwa sehelai baju Chanel adalah takdir kita? Padahal Tuhan mau kita berkarya & memberikan berkat melalui sekotak picnic roll :p *sok bijak pula pake analogi hahahahahaha* Mungkin kita sudah menganggap bahwa seorang Bobi adalah seseorang yang cocok mati dengan kita? Lupa bahwa kita bisa berkembang jauh....menjadi pribadi yang lebih baik ketika bersama Hadi :p Mungkin kita menganggap bahwa Sophia adalah cinta mati kita. Namun kita lupa, bahwa Luna jauh lebih pantas untuk kita ^_^ *eh koq sama ama korban Ariel, wakakakakakakakaka....pisss....pisss..... ^^V*


Teringat ama wejangan salah satu alumnus Hua Ind tahun 93 yah? Kita tidak bekerja sesuai yang kita cintai ^_^ Tapi sesuai yang diberikan tanggung jawab ke kita. Saya ingin tambahkan pula dari Bapak Tahir (Boss Group Mayapada) seorang ada beberapa tahapan sukses, di tingkat paling rendah, dia mengerjakan yang ingin ia kerjakan, di tingkat yang kedua dia bekerja karena dia bertanggung jawab, di tingkat ketiga dia bekerja karena ada visi. Mau punya visi? Semua orang mau. Namun visi itu tetap visi bila kita tidak berusaha menemukannya ^_^



PS : mau menyemangati Bapak & Ibu pekerja yang masih punya waktu untuk mengembangkan dirinya, BRAVO!! Berarti Anda punya manajemen waktu & otak yang baik ^_^ Ayo lebih semangat lagi buat bagi waktu & prioritas hidupnya.

Tetap semangat! Have a fabulous day to share!




Tuhan memberkati


DPS pamit

Selasa, 21 Januari 2014

Itulah Indonesia (Termasuk Saya) - Surat Untuk Ibu Negara, Bapak Walikota Jakarta, & Pejabat Lainnya

Selamat malam ^^

Ini tulisan saya buat bukan untuk menyudutkan siapapun juga. Tapi, lebih ke ajakan, mari kita berkaca dan sedikit berempati ketika menudingkan tangan kita ke orang lain. Ya, tulisan ini juga semestinya buat saya juga koq (sebelum dicolek, digaplok orang-orang & dikasih pinjaman kaca nako, hahahahaha ^^V)

Itulah Indonesia, apa sih yang saya soroti di sini? Korupsi? Tentu saja tidak ^^ saya bukan pengamat politik yang baik, terus terang saya malas liat dagelan orang-orang politik, malas membedakan mana yang tulus mana yang tidak. Mau bahas korupsi, juga saya tidak punya data yang akurat, ya kan? Daripada dibilang fitnah, mendingan ngomongin yang lain deh.

Kemarin sempat mengikuti serunya tudingan orang-orang terhadap Ibu Negara kita, Ibu Ani Yudhoyono, mengenai instagramnya. Saya sempat ngomong ke suami, 'Bu Ani tu, kenapa koq ga tutup mata tutup kuping aja sih liat komentar orang-orang? Agnes Monika aja banyak yang mencaci maki, dianya cuek aja. Malah jadi capek ati ngeladeni orang-orang' Sebelum santer kasus instagram Ibu Negara, pernah tertegun melihat gambaran 4 kondisi suami istri dan keledainya kan? Ya, melalui gambar itu, semua orang selalu punya pendapat yang unik atas setiap pilihan hidup kita. Ga usah jauh-jauh, saya yang karyawan biasa, pasti ada aja koq yang ngomong, 'Devi nih ga empati bener ya? Orang ada banjir ama bencana Sinabung, koq ya sempet-sempetnya upload makanan?!' Ya mungkin 'follower' saya tidak sekritis itu kepo terhadap daily activity saya ngapain aja, apa saya pernah berdoa bagi para pengungsi Sinabung, atau kepo terhadap rekening saya pernah transfer ga ke Peduli Sinabung? Kalau seorang Ibu Negara? Wow....banyak loh yang kepo dan iri dengan posisi Ibu Ani. Udah Bu Ani, tidak usah lah pusing dengan tanggapan orang-orang. Yang penting kan Ibu sudah melakukan kewajiban Ibu sebagai Ibu Negara, Ketua Dharma Wanita Indonesia, titik. Buat yang ikutan komen sinis mengenai empati ke korban bencana (ingat ya, saya bukan menyudutkan, cuma mengingatkan) pernah menyempatkan waktu berdoa untuk para korban? Pernah ikut daftar buat relawan Posko Banjir tanpa menuliskan "bantuan dari Devi Pawoko"? Kalau belum, yuk mari....kita juga belum berempati ke mereka kan? Ga usah nunjuk-nunjuk Ibu Ani pakai 1 telunjuk, ternyata 4 jari mengarah ke kita sendiri, malunya... =p Terus pada bilang, udah...wek...wek...wek...saya udah berdoa buat korban Sinabung, datang ke lokasi banjir, menyumbang uang banyak buat korban banjir juga. Oh, baik sekali perbuatan Anda ^^ sayangnya koq kepo ^^V

Case closed untuk "keluarkan balok di mata kita, sebelum mengeluarkan selumbar dari mata orang lain" dan "kepoisme WNI". Kasus kedua, "rumput tetangga lebih hijau, koq enak dia hijau, kita kagak?!" ^^ Ini mengenai rumor (masih rumor ya) mengenai pembukaan (atau penjebolan paksa) pintu air oleh oknum. Teman oknum bilang, masa iya kita doang yang banjir, tetangga sebelah koq nggak? Ya banjir sama-sama dong. Disambut kata 'huuuuuuuuu.......' oleh tetangga yang kebanjiran (ya mungkin ga sekenceng itu sih bilangnya, ngeri aja malah tambah parah ntar) Eh, tunggu, sebelum tuding-tuding orang lain 'berdosa' menjebol tanggul, saya tanya deh. Masih nerobos jalur transjakarta, ketika jengkel melihat transjakarta was wis wus lancar sementara kita parkir gratis di jalan? Saya bantu teriakin ya... 'huuuuuuu.......' ^^V Eh....sama aja to? Apanya yang ga sama antara penjebol tanggul ama penerobos jalur transjakarta? Sama-sama melanggar hukum, sama-sama dasarnya 'rumput tetangga selalu lebih hijau' Terus ada yang jawab, sori dori mori deh! Nerobos jalur transjakarta bukan saya banget deh! Kagak pernah! Oo....oke, mari kita bawa yang ngomong gitu ke situasi, semua orang banjir, tinggal Istana Negara yang ga banjir, komennya apa? Ntar juga, Presiden tidak punya empati!!!! *tepok jidat & tutup mata* ^^ See? Kalau kita mencoba menempatkan diri kita ke yang tertindas, sama koq komen kita. Jadi, udah ga usah memperkeruh suasana yang emang sudah keruh ini dengan komen-komen ga penting. Biarin yang ketangkep masuk jalur transjakarta didenda, biarin juga yang ketangkep jebolin tanggul diproses. Tugas kita apa? Kembali ke? Kerjaan ^^ betul sekali, urusi kerjaan kita sendiri, ga usah kepo urusan orang lain *eh koq balik ke kasus pertama ya? hahahahahaha*

Kasus ketiga "minim rasa syukur & berterima kasih" Terlepas dari prestasi atau pun 'wan prestasi' yang dilakukan tiap Kepala Negara & Kepala Daerah, kita selalu? Selalu punya cibiran, celotehan, kambing hitam untuk dipersalahkan ^^ Hayo jujur..... Jadi, saya cuma mau bilang ke Presiden terpilih nanti, udah kaya Gus Dur aja, asal bersih, kerja maksimal, tutup mata tutup kuping deh, gitu aja koq repot? Ya kan? Kebanyakan dengerin celotehan orang jadi sebel-sebel sendiri. Kenapa? Ya karena emang kita ini susah bilang terima kasih. Entah kenapa bisa aja nemuin cacat cela orang lain, termasuk saya loh ^^ ini juga mengingatkan saya, hahahahaha. Jaman Pak Harto, siapa sih yang ga merasa hidupnya aman? Pernah loh Malaysia sampai datang belajar ke Indonesia. Jasa siapa? Cuma cibiran & cacian yang kita alamatkan, yang korupsi lah, yang kelewat otoriter lah. Jaman Gus Dur? Yaelah...Bapak sebaik itu, masih juga ada yang caci maki koq, Presiden koq ga punya penampilan Presiden? Ngomong koq asal njeplak? Kebanyakan yang bisikin sih.... SBY, prestasinya? Bikin KPK, menjalankan negara dengan selamat selama hampir 10 tahun, apa bilangnya? Militer koq cengeng? Lha....dikerasin jamannya Pak Harto protes? Presiden koq curhat! Presiden koq gak tegas blas! Lho ntar ditegasin juga ngomel. Coba ditengok yang skalanya lebih rendah, Walikota Jakarta, Bang Foke. Sombong! Arogan! Lha coba itu transjakarta maju juga koq karena ada Pak Fauzi Bowo. Jokowi? Pencitraan! Janji doang! Gak becus nangani banjir! Well...ya, benar siapapun pemimpinnya, kita? TIDAK PERNAH PUAS. Bapak & Ibu yang nantinya memimpin Indonesia, udahlah....jujur & bekerja maksimal, udah tutup mata, tutup telinga. Daripada panas hati, cepet mati. Ga usah orang lain, wong kita aja ga pernah bersyukur & berterima kasih atas pencapaian diri sendiri koq, Pak & Bu. Buktinya apa? Lha slogannya 'rumput tetangga selalu lebih hijau'

How to build a citizen while the people do not want to be built? ^^ Bagaimana caranya membangun bangsa yang besar kalau kitanya tidak mau dibangun?

Yuk, sekali lagi, sama-sama, belajar jadi orang yang baik dulu, sebelum jadi warga negara yang baik. Bagaimana caranya?
1. Belajar mengaca, sebelum menuding orang lain
2. Menyelesaikan pekerjaan sekarang atau target besok bahkan lusa, sebelum kepo orang lain hartanya berapa
3. Bersyukur atas rejeki & segala tantangan hari ini, rejeki tetangga urusan Tuhan & tetangga kita.
4. Berterima kasih atas jerih payah orang lain yang telah mereka lakukan untuk kita

Dah 4 dulu, daripada kebanyakan, malah lupa....hihihihihihi... Semoga dengan bisa menerapkan 4 hal itu, kita bisa jadi orang yang lebih baik, nantinya juga jadi warga negara yang baik, yang nantinya juga akan menumbuhkan politisi & negara yang besar pula ^^ Ada amin teman-teman? Amin!

Selamat malam & selamat menjadi orang baik.

Tuhan memberkati



DPS pamit

Sabtu, 04 Januari 2014

Curhat di Minggu Pagi - Do Your Best & Believe that God Give the Best too

Selamat pagi! Selamat hari Minggu!


Tumben-tumben pagi-pagi (Minggu pula) hinggap di blog, hihihihi *ketawa kuntilanak* Eh saya punya cerita lucu *halah...paling-paling juga curhat =p* Mumpung hari Minggu yah, ini cerita buat saling menguatkan koq APAPUN TANTANGANNYA, PERCAYALAH TUHAN BAIK ADANYA!


Sering bingung kan enaknya slogan kita gimana tuh? Do your best & let God do the rest, koq seolah-olah kita tidak menempatkan Tuhan di awal perencanaan kita yah? Yowes dibalik, let God do the best & we take the rest, dipikir lagi...anak males nih, maunya mujizat doang ^^V *minta dilempar bakiak* Yah, pokoknya sama-sama melakukan yang terbaik lah, perencanaan minta Tuhan bimbing, eksekusi sama-sama melibatkan Tuhan, lakukan yang terbaik, masalah hasil, udah percaya aja ama Tuhan.

Tumben pagi-pagi bijaksana, Dev? Emang abis kesambit apa? =p LPG abis tepatnya, hahahahahaha

Semalem, pulang jalan-jalan dari Giant udah jam 9. Koq masih terlalu pagi buat tidur ya? Yaudah bikin kue aja, Fruit cake kukus. Aduk ini, aduk itu, nimbang ini, nimbang itu, potong ini, potong itu *sambil nyanyi all.....by myself..........uwooo...uwooo....-gaya Nia Daniati ^^V* Nyalain kompor, setting timer 40 menit. Sambil menunggu, saya cuci mencuci perkakas yang digunakan. Eh, ini bunyi panci kukusan koq semakin lirih, kaya kehabisan air. Masa air sebanyak itu habis >.< Haduh....mati lah, komat-kamit Bapa Kami deh, minta bantuan Tuhan. Setelah cucian selesai, ditengoklah tuh panci, lho? Koq apinya makin kecil O.o saya besarkan dikit, koq ga bisa besar? Oh...firasat apakah ini *lebay bener yaaaa.....wakakakakakaka* Pasti firasat dapat duit bonus banyak *matre mode on* (perasaan semua firasat selalu saya asosiasikan dengan dapat duit, hahahahahaha ngarepppppp)

LPG abis!!! Sempurna! Mana udah jam 11.00 Nyari dimana??? Masa seven eleven? *panik*


Haduh......ini kalo Gordon Ramsay sih bisa kali yah ngakalin LPG habis, lha kalo saya???? Seorang Devi Pawoko Santoso yang ga punya pengalaman sekolah chef, kursus aja ga pernah, baca teori masak memasak juga ga pernah. Kiamat!! Sambil berharap master-master chef di group BB saya masih 'hidup' jam 11 malam (group teman SMP, tapi entah bisa kompakan ga laki ga perempuan pada jago bikin kue, eh...yang laki ga bener sih, hahahaha....ga mau kalah aja mereka ama clan perempuan =p) Helpppppp, LPG habis, bikin kue kukus baru 22 menit, LPG habis, what should i do? Helpppp (begitulah ketikan saya di group) Hening...sunyi...tanpa suara, tiba-tiba ada balasan teman dari Thailand (masih on ternyata) coba aja dab (ini panggilan saya di group, singkatan dari biadab -.-") masa mau dimakan mentah? Doeng...oke... Mulai panik, koq si master chef ga ada yang jawab. Dioven berapa pula suhunya, hahahahaha... Ya Tuhan...yaudah ngasal aja, ini kue kan strukturnya rada moist & heavy, bukan model sponge cake yang kudu ngembang. Kalau sponge cake 180, berarti mungkin fruit cake ini butuh 160 kali ya? Ngasal bener.....hahahahaha..... (asli saya tidak ada keturunan Gordon Ramsay, ini tulen keturunan Papa saya yang emang bonek, hahahahaha ^^V pis Pa....pagi-pagi diomongin di blog)


Dag dig dug, mati deh.....kalau gak ngembang T.T gimana ini...buang-buang bahan plus diomelin suami, makanyaaa.....kalau malam ya sante aja duduk-duduk, malah ubyek di dapur!!! :D *gimana caranya mau punya anak, lho koq curcol hahahahahahahaha ^^V* Sambil komat-kamit doa tiada henti, minta Tuhan mekarin kue saya (Tuhan yah, apaaaaa aja saya curhatin, hahahaha...dulu minta jodoh, doa juga ke Tuhan, ujian berhasil ke Tuhan, bikin kue? Manggil Tuhan pula! >.< eh, kalo Mama saya malah berpesan, kalo masak atau bikin kue doa dengan perantaraan Bunda Maria aja, kan Bunda Maria cewek, pasti tau keribetan kita di dapur, ntar juga disampein Tuhan, kaya mujizat di Kana itu loh, hahahahahaha -> beginilah Mama saya)

Cting....bunyi oven mati, dibuka...eh rada basah dikit permukaannya, tapi pas tes tusuk udah matang sempurna. Yaudah oven lagi 10 menit, cting....voilaaaa.....ngembang!!


Tuhan, Dikau memang Allah yang baik hati *kecup* Puji Tuhan.......kue saya ngembang sodara-sodara, fiuh....hm....baiklah...nanti di blog resep saya, saya kasih nama dedicated khusus buat Tuhan : Thank God Fruit Cake :D *jelas ini ga mungkin tanpa campur tangan Tuhan dah, hahahahahaha*


Selamat beraktifitas! *lanjut bikin hakau abis ini*


Tuhan memberkati ^o^


Have a great weekend to share with


DPS pamit

Selasa, 17 Desember 2013

Susahnya Jakarta, Kerasnya Indonesia Gara-Gara Tingginya Nilai Saya - Sebuah Opini Jujur Tanpa Analisa Data

Haiiii ^^ selamat malam,


Oya, mungkin terasa berat baca judulnya, bok apaan sih si Devi, malam-malam kesambit donat *widihhh ngarep bener, hahahahaha-krucuk..krucukkk T.T, diet mode* Eh tunggu dulu....coba disimak :D *koq maksa* ya siapa tau teman-teman turut andil dalam kegalauan saya *emang kudu kami pikirkan gituh? =p*


Dimulai dengan kepanikan saya di hari Minggu lalu, ketinggalan dompet di rumah! Ah, bukannya lagu lama Dev? Ketinggalan dompet, ketinggalan BB, ketinggalan resep, ketinggalan tas, ketinggalan sepatu, dan sederet ketinggalan lainnya *termasuk ketinggalan gosip, hahahaha* Yang jadi permasalahannya, ya...dompet saya tertinggal di rumah saya yang mungil namun udaranya segar di kaki bukit *ini sih lebay bener deskripsinya, hahahahahaha* dan saya sedang ada di tengah kota metropolitan, dan ngekos *untuk lebih menyehatkan batin & raga & kocek daripada nyetir pakai mobil dari kaki bukit ke Jakarta* Mampus lo! Batin saya, haizz....kebayang deh perjuangan ke rumah yang akhir-akhir ini lalu lintasnya ajubileh bin jalik ramah bener ama betis & paha yah *bohong besaaarrr* Urun rembuk dengan Hadi, dia usul saya pulang nebeng orang kantor yang rumahnya di desa *lebih maju dikit lah dari kaki bukit yah :D cuma beda 5 - 7 km doang* trus minta tolong orang kantor anterin ke stasiun di desa & balik Jakarta naik kereta *gak pake kuda =p* Tapi kalo dipikir lagi, berarti saya kudu melipat muka ngadepin kelancaran lalu lintas Jakarta - desa dong ya? Hmmmpphh..... Akhirnya diputuskan, oke saya ijin saja deh, jam 10 pagi - 12 siang. Jam 10 pagi naik kereta ke desa, sambung ojek PP, naik kereta ke Jakarta lagi. Ya, sungguh waktu yang mustahil untuk ditempuh dengan mobil via darat *ya sapa tau mobil saya bisa terbang gitu kan ya :D* Jakarta - kaki bukit PP hanya 2 jam.


Akhirnya, saya naik KRL. Di dalam KRL saya banyak mengamati & merenung. Eh eh...Jakarta oh Jakarta, bentar lagi ga ada bedanya ama Singapura deh. Ya, kemacetan yang lumayan menyita waktu, membuat rekan-rekan sedesa atau sekaki bukit, lebih memilih naik KRL. Harga tiket KRL yang lebih murah dari bus pun, sepertinya membuat warga yang biasanya naik bus juga memilih naik KRL. Tapi, banyak juga orang yang lebih memilih macet daripada jadi pepes di KRL. Dari pengamatan & permenungan saya itu ada beberapa hal yang nampaknya perlu kita sikapi juga dengan kontribusi kita. Apa aja?

1. Kemacetan karena waktu saya terlalu berharga & tetangga emang kurang banyak orang
           Entah karena kecelakaan lalu lintas, entah karena emang supply mobil yang begitu deras tidak diimbangi dengan supply jalan, entah banjir itu ga jauh-jauh dari andil kita koq. Bagaimana mungkin kita teriak-teriak ke pemerintah, heeii....apa sih kerjaan lu? Macet tambah hari tambah parah aja! Lha kita sendiri yang nambah mobil, ada mobil buat Papa ngantor, ada mobil buat Mama ngantor, ada mobil buat anak sekolah & les. 1 rumah 3 mobil. Penduduk Jakarta ada? Tinggal dikali aja kan? Dapetlah sebuah luas area mobil total untuk penduduk Jakarta & sekitarnya yang bercokol & juga mampir ke Jakarta. Lebih besar mana ama area jalan? Jadi, kalau mau ngotot naik mobil, nambah mobil, tapi ga mau macet, tunggu lah Pemerintah bangun jalan susun tujuh. Kenapa? Lha rumahnya aja susun-susun, kenapa jalannya ga dibikin susun????
           Oke, kita berhak komplain "Pak...Bu....kami tidak memilih angkutan umum, karena tidak nyaman, kaya pepes deh, sumpah deh nggak nyaman!" Apa sumbangan kita buat nambah angkutan umum (pendapatan pemerintah di bidang transportasi masal)? Yang udah membiasakan diri naik kereta atau bus, walaupun bersungut-sungut, mereka masih punya kontribusi loh, dibanding kita (termasuk saya yah...ini saya garis bawahi, TERMASUK SAYA) Mereka udah bayar & memberikan keuntungan untuk kereta & bus beroperasi, syukur-syukur nambah armada. Kita? Udah ga pernah bayar, ngomel! (ah...ini gaplokan buat saya juga) Bener, buat nambah bus aja, pemerintah butuh uang kan, apalagi buat nambahin KRL (biar beda kedatangan dengan KRL yang satu lagi cuma beda 5 menit, seperti di Singapura) Duitnya dari mana?
            Lucunya, saya ini (orang Indonesia) hobby nya mepet-mepet kalau janjian. Udah tau janjian jam 10, berangkat dari rumah juga bisa jam 09.45 Akibatnya? Ngebut, eh....pas suek kecelakaan lagi. Apa coba kalo ga gara-gara karena saya merasa waktu saya lebih berharga & orang lain tidak? Serobot sana-sini, merasa kalau SAYA HARUS SAMPE ONTIME. Emang yang lain nggak harus?
            Ya, tetangga kita Singapura kenapa tidak begitu macet? Orang yang naik mobil jarang ga kayak kita, eh iya..coba dihitung tingkat kerapatan penduduk seluas area Jabodetabek dengan Singapura deh, rapat mana tuh? Ya sekali lagi MRT kan tiap 5 menit sampe cong...KRL kita 30 menit jedanya, gimana mau nyaman?


2. Penghuni liar karena tidak bisa menciptakan kesempatan di daerah
              Ini termasuk saya loh, hahahaha.... Ngapain juga orang KTP Malang kerja di Jakarta lah? Bikin penuh aja, pake acara rumahnya di kaki bukit wora-wiri naik mobil pula, hahahahaha ^^V Ya, saya datang Jakarta karena sudah dapat penghasilan bersih yang lebih oke dibanding saya kerja di daerah. Nah, yang cuma percaya, Jakarta kan kota gede, ntar pasti dapat kesempatan lah, ntah ngemis, ntah nyopet, ntah mulung. Bermukimlah mereka di lahan kosong yang tidak terurus oleh negara. Miris semestinya ketika naik kereta kemarin. Astaga, jarak rel kereta dengan 'rumah' warga bisa cuma hitungan cm loh, 30 cm kayanya ada deh. Kalo ntar keretanya oleng, gimana pula nasib tu rumah & penghuninya? Hiks... Pantesan aja yang namanya kereta bising....bolak-balik nyalain klakson, ngeri aja kan ada anak-anak maen atau nyeberang rel, lah rumah mereka ga pakai pagar itu hadapan dengan rel kereta. 
              Yah, sederetan warga lain yang mencoba peruntungannya di Jakarta, yang bermukim di waduk atau bantaran sungai. Mas, Mbak...kalau di Jakarta bisa jualan nasi rames, di kampung pasti bisa juga kan. Ga usah pusing kena macet, udaranya juga lebih segar.

3. Pendidikan Agama?
             Entah ya yg dapat Pendidikan Agama Islam, Hindu, Buddha atau Kristen di sekolahnya pengajarannya bagaimana? Kalau saya dididik secara Katolik, ya gitu...diajarin sakramen, diajarin Kanon, Kitab Suci disuruh hapal perikop-perikop penting. Disuruh ngapalin arti iman, ngapalin jenis-jenis piala. Buat apa? Buat apa sampai hapal? Bukankah esensi dari Agama itu : BERSYUKUR & MENGHARGAI ORANG LAIN. Itu ga perlu dihapal, tapi perlu sering-sering dipraktekkan dan dibuat studi kasus dari kecil. Kenapa? Banyak koq permasalahan kita yang dimulai dari tidak bersyukur & tidak menghargai orang lain. Contoh? Korupsi. Mau gaji berapa aja juga ga pernah cukup, karena ga pernah bersyukur dan menghargai orang lain yang seharusnya lebih layak dapat itu rejeki dibanding kita.
            Lucu, saya belajar bersyukur & menghargai orang lain setelah saya dewasa & karena bergelut dengan banyak orang dari berbagai macam kepentingan. Kenapa 2 hal yang sepertinya remeh temeh ini tidak pernah diajarkan di sekolah? Eh, mungkin diajarkan tapi saya yang kurang menyimak?


Ya, mungkin saya saat ini tidak bisa berbuat banyak buat negara saya, selain bersyukur & menghargai orang lain tadi. Belajar tertib lalu lintas, belajar berangkat lebih awal biar ga asal serobot, belajar taat bayar pajak. Oya, satu lagi. Belajar bayar tilang sesuai tempatnya -kas negara (ini kejadian gara-gara melanggar marka jalan, hihihi) Syukur-syukur ya, ke depannya bisa menciptakan lapangan kerja yang lebih baik buat orang sebangsa saya, Indonesia. Entahlah, mungkin banyak orang yang skeptis, kan banyak pejabat yang korup & pajak dikorupsi, namun kalau kita tidak memulai dari diri kita sendiri sebagai bangsa, sampai kapan kita saling menunggu? 


And so, my fellow Indonesians: ask not what your country can do for you — ask what you can do for your country - mengutip & memodifikasi dari JFK :D Kapan? Sampai kapan kita menunggu kita memberikan yang terbaik ketika negara memberikan yang terbaik bagi kita?


Saya cinta Indonesia, bagaimana dengan teman-teman?


DPS pamit.


Tuhan memberkati

Jumat, 22 November 2013

Till Missmanagement Do Us Apart - Waspadalah Terhadap Pocong di Bawah Pohon Cabe

Selamat pagi :D



Tumben yah, Sabtu kagak jadi pembokat, malah nulis-nulis :D Sambil membunuh waktu, ntar siang janjian ama Ucrit shopping ala nyak-nyak *Ucrit yg jadi nyak, saya belon, hihihi ^^V sekalian konfirmasi*


Hmm....sharing saya kali ini mungkin lebih ke kehidupan pernikahan ya... Anyway, buat yang belum menikah mau tetap menyimak ya monggo, kalau merasa ogah....ntar pikiran malah berat, malah trauma nikah malah repot deh, hihihi ya monggo loh.. ;)

Recently, eh nggak recently yah, udah dari jaman baheula kayanya udah common aja prahara pernikahan, yang tetangga cerai, artis cerai, pernah koq saya dengar beritanya. Namun, sekarang kan temen-temen seumuran juga udah pada beranak cucu *cucu ini sih lebay bener yaa....hahahahaha, maksudnya anaknya udah beranjak remaja gitu lah, duh....koq berasa saya yg paling muda karena blom punya anak- maksaa.....biasaaaa hahahahahaha, minta diguyur es blewah adem- eh milih pula ^^V* Jadi, ya....prahara dalam rumah tangga mereka pun seolah-olah ikut begitu nyata gitu dalam hidup kita. Ya...emang sih, hidup saya warnanya lumayan cerah, keluarga inti, puji Tuhan, walaupun minimal usia pernikahan mereka udah menginjak 14 tahun *Ko Pieter & Cye2* ya mereka masih satu sama lain saling dukung - tolong digarisbawahi saling dukung, bukan ga pernah ribut. Semestinya ada juga koq keluarga yang pernikahannya kurang begitu bahagia & mereka tetap memaksakan diri. Tapi, ya itu...semuanya bikin saya mematut-matut diri, walaupun si Hadi bilang udah lah.....ga mungkin juga aku selingkuh.


Ya, saya tau suami saya bukan tipe gombal. Tapi, saya melihat fenomena selingkuh tuh udah kaya bahaya laten *hahahahahah......perselingkuhan itu merah JENDRAL!!! - masih inget nggak tuh film G30SPKI :D* I mean, ya mereka nyata, berseliweran di tengah-tengah kita sehari-hari. Karena saya percaya, setan, malaikat, manusia sesungguhnya hidup rukun di bumi ini *lirik setan, lo menuh-menuhin aje, hahahaha....-nyari penyakit* Jadi ya, mumpung saya masih waras, saya kira saya masih bisa 'point out' kira-kira hal apa aja sih yang mengancam kehidupan pernikahan itu sendiri. Ini menurut pemikiran saya loh....ya....tentu saja pengalaman saya kalau dibanding Papa Mama yang udah nikah 45 tahun yang lalu pasti kalah heboh lah ya... Tapi, let's share ^^


Oke, apa iya biar ga selingkuh kita kudu mengungkung diri jadi sebuah individu yang komunis gitu? Ga ikut-ikut bergaul, ga ikut FB, ga ikut Path, ga ikut twitter, ga baca majalah, ga baca koran, ga beli TV, tiap hari berdoa ke Tuhan & mendoktrinisasi diri sendiri MY HUSBAND / WIFE IS NUMBER ONE *pingsan* Gitu? Ya....kalian aja deh yang jalanin, saya mah ogah, hahahahha ^^V *sekali lagi niat diguyur es blewah*


Hello??? Dunia jaman sekarang geto loh.... Banyak pula smartphone, social media, chat apps yang memudahkan hidup kita, ngapain kita hidup susah anti sosial? Ehh....kaya katak dalam tempurung. No way! Bukankah cinta itu intinya adalah kebebasan? Ya tentu saja kebebasan yang bertanggung jawab, dalam konteks pernikahan lho yah. Jadi, kalo masih pacaran, mau selingkuh ama monyet, juga...urusan elo gicu lohh.... ^^V Ya even udah menikah mau selingkuh ama Pocong juga urusan elo, ya tapi saya kan lebih PRO MONOGAMI, jadi ya saya kurang setuju, gitu aja.


Trus? Jadi? Penyebab selingkuh menurut saya :

1. Ga percaya bakal selingkuh
              Itu sama aja nyepelin setan yang lagi duduk manis di pojok sana *hiii......* Ya namanya manusia gitu loh....kudu tau lah, kita tetap manusia bukan dewa ya nggak? Jadi, yah udahlah.....setan di mana-mana, ga usah sok kuat sok suci deh kalo udah tau deket pohon rindang banyak genderuwo, ehhh....malah nyamperin sambil nari-nari di bawah pohon bilang "setan...jelek.....setan jelekk....." ^^V Maksudnya ? Ya....kalo udah tau, tiap ketemu Mike Lewis koq deg-deg an melulu, padahal suami di rumah menunggu, ya nggak usah sok kuat atuh, ngajak Mike Lewis dinner sendirian toh? Hello.....you need a miracle *i mean PENAMPAKAN TUHAN YESUS* buat tetep kuat jaga pendirian gitu loh, hahahaha.... ^^V See? Udah kerasa kalo ketemu si bahenol Kate Upton di kantor koq hati serasa gelisah gimana gitu yah, ya udah ga usah disamperin kalo si Kate nangis-nangis curhat pacarnya selingkuh, pake acara 'gimana kalo kita dinner berdua aja? Biar leluasa ngobrolnya'

             ^^ jangan deket-deket Pocong kalo lu ga bawa bawang 2 kontener, kikikikik.... Itu istilahnya. Jangan maen-maen ama hatimu, yang ngasi cobaan sapa kalo gitu? Lu jawab Pocong bawah pohon, minta diuber ampe pipis di celana kapok luh ^^V Yeee.....situ yang nyari penyakit sendiri, giliran khilaf nyalahin setan. Pret!!!


2. GR ga pada tempatnya
              Mungkin ini penyakit orang-orang tertentu *biasanya yang suka dipuji-puji, meanwhile pasangan ga suka muji-muji* Dandan to the max, rendeman pake parfum, lewat depan suami, eh....koq kagak bergeming. Lewat depan Mike Lewis, Mike Lewis ampe melongo, aduh......Devi....elo cakep banget hari iniii.....TOP banget... *ihik...ihik....tersipu-sipu malu* Masuklah si pocong, duduk adem di pojokan hati. Laen hari ketemu Mike Lewis lagi, eh...dia bilang 'eh Dev lo makin cakep aja......' *ihik..ihik...udah ga pake malu, bilang iyesss.....dalem hati* Si Pocong lagi enak-enak creambath dalam hati, makin seger pula penampilan si pocong yah, lah lu piara sih...hahahaha ^^V dan sebagainya dan sebagainya.

              Nah? Kita kudu gimana? Masa orang lain muji, kita tereak-tereak histeris 'jangaaannn.....ampunnn.....saya tidak tahan' ^^V ya boleh sih.....ntar juga dianggap orang ga waras, malah ampuh koq, hahahahaha *becandaaaa* Ingat!!! PERCAYA DIRI is the KEY! Kalo orang lain muji, makin cantik aja Dev, bilang aja 'o...jelas.....hihihihihi dan kasih senyum kemenangan, yes! saya emang cakep' *mual-mual* Kalo orang laen muji, Hadi.....lo makin gagah aja deh.... tinggal bilang 'pastinya hahahahahaha ga dikasi tau juga udah sadar' Dijamin yang muji keki, hahahahaha ^^V


3. Curhat tidak pada orang yang tepat
               Ya, setiap pernikahan kadang menemui masalah, wajar....ya kan? Orang idup single aja, kita pada nemuin masalah koq. Apalagi idup berdua, beranak pula? Ga beranak juga masalah? Ya nggak?! *curcol, hahaahahahaha* Coba cari orang yang emang 'level nya di atas kita' Maksudnya lebih dewasa, untuk curhat. Dan tentu saja, curhatnya pun bawa aja pasangan kita to? Kenapa? Kenapa kudu bawa pasangan kita? Ya kalo kita merasa dia ngeselin, biar dia sekalian dinasehatin ama tu orang, ya kan? Enak kan? Ga usah kerja 2 kali kan? Solusinya ga cuma, ya lu tabah lah.... kan langsung tembak di tempat, tepat sasaran :D Berantem di depan orang? Lhah ya makanya curhatnya ama 2 orang ato 1 orang....bukan ama Dewan Paroki ato pas Doa Lingkungan ato Pendalaman Iman gitu lah :D 
               Curhat ama orang tua? Boleh kalo emang orang tua dirasa obyektif. Curhat ama psikolog? Boleh banget, asal jangan lupa bayar abis curhat, hahahaha ^^V Curhat ama saksi nikah? Boleh....monggo, asal berdua. Kalo milih ga curhat? Ya boleh-boleh aja koq, cuma berasa kan? Kalo kita masing-masing ada masalah, & kita berusaha di lingkungan itu...itu aja...solusinya juga...itu...itu aja...Ga ada pendapat lain? Ya...gitu deh...yang ada tambah sumpek.


4. Rumput tetangga akan selalu lebih hijau
               Ya, rumput tetangga emang akan lebih hijau, lebih pink, lebih gothic, lebih fashion, lebih apalah pokoknya. Why? Karena kita nggak tau perawatan model apa setiap hari yang bikin tu rumput jadi LEBIH di mata kita?? Ya mungkin pupuknya lain? Tagihan listriknya lain? Dan 1 lagi, TANAHNYA aja lain.......cuy.....emang tu rumput ngawang di udara gitu ga pake tanah? Tanahnya laen..... & yang terpenting....itu bukan hak milik kitaaa.....kalau mau di hak milik, ya cari pengacara, tanya baik-baik ama tetangga, neng...rumahnya dijual ga? Kalo neng sebelah ga mau jual rumah, ya udah....ga usah pake acara maksa memiliki rumahnya... Kalau maksa gimana? MALINGGGGGGGG!!!!!!! *sambit panci teflon diameter 50 cm, widih....manteb bener, hahahahaa*
              Lho...itu kan kalo rumput tetangga ada yang punya *baca : udah punya suami/istri* kalo ga ada yang punya? Bebas dong? Bebas pala lu botak! Tanah negara woiii!!! Mau disegel? BANGUNAN INI DISEGEL KARENA TIDAK MEMPUNYAI SHM & IMB Cobain deh kalo ga percaya, cabut tuh palem depan monas satu aja ga usah banyak-banyak, kalo ga didatengin satpol PP. Ciyus! I mean, ya lu beli tanah sebelah, buka cabang di luar kota, rekan kongsi kita tau ga? Dia setuju ga? Dan terlebih lagi, anak-anak setuju ga? 


Pada stress deh, ga jadi selingkuh dong? Udah lah.... Kalo bosen ama penampilan suami, ya vermak ke mana gitu kek, ke Korea jadiin semuda Kim Bum. Kalo merasa perlu deg-deg an lagi kalo pacaran ama istri? Ya udah pacaran aja di tengah lintasan KA yang ga ada palangnya, itu juga bikin deg-degan koq ^^V

Once again....ya...setiap orang dari kita punya hak nya masing-masing, mau buka cabang atau apalah, emang hak kita masing-masing. Namun, balik lagi *kudu digarisbawahin* saya menekankan ke diri saya sendiri bahwa saya monogami aja deh. Kalo ga percaya, boleh cek ke toko sebelah, Cik. ^^V I mean, ama siapa aja kita hidup, friksi itu tetap ada. Pengen variasi biar hidup lebih hidup? Ya itu tadi, saya akan mengingatkan diri saya, saat Hadi udah ga seganteng Kim Bum, udah jadi kewajiban saya, ngebiayain Hadi operasi plastik & meyakinkan anak-anak kami nantinya, ini beneran Papa Hadi loh....cuma wajahnya aja Kim Bum...lebih menarik kann..... ^^V Kalo udah ga berasa deg-deg an lagi pacaran ama Hadi, mungkin udah ga saatnya kita berdua jalan-jalan di mall, ntar saya ajak Hadi jalan nyusurin lintasan KA deket Manggarai yang rekor kecelakaannya paling banyak, seru tuh kayanya, bakal dag dig dug duer dah hahahahaha....


^^ in Deo speramus, dalam Tuhan kita percaya, in God we trust. Yuk saling dukung satu sama lain. Ga cuma saling mendukung pasangan buat bebas & bertanggung jawab. Tapi, juga mendukung teman-teman lain untuk saling mendukung pasangannya bebas & bertanggung jawab ^^


Amen?


Tuhan memberkati


DPS pamit